Yang Perlu Diketahui Dalam Renovasi Rumah Tinggal

Yang Perlu Diketahui Dalam Renovasi Rumah Tinggal

Beberapa proyek yang sedang kami kerjakan adalah proyek renovasi. Karena kami lebih mementingkan bangunan tempat tinggal atau tempat tinggal, kami memfokuskan perhatian kami pada renovasi bangunan tempat tinggal, khususnya yang menggunakan rangka beton bertulang.

Secara umum kasus renovasi rumah ada dua yaitu renovasi tanpa penambahan lantai dan renovasi dengan penambahan lantai yang biasanya berkisar dari satu lantai hingga dua lantai.

1. Perbaiki tanpa menambah jumlah lantai.

Renovasi tersebut dapat dilakukan asalkan masih tersedia lahan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ruang yang dimodifikasi, terutama untuk penambahan ruang bangunan. Tentu saja, kami mengingatkan Anda tentang peraturan KDB setempat yang berlaku. Anda dapat menanyakan tentang pernyataan ukuran KDB selama pemrosesan IMB di kantor lisensi lokal Anda.

Lalu bagaimana cara mengatur ruangan yang sudah ada dengan menambah / memodifikasi ruangan baru? Apakah cukup bagi Anda dengan hanya menghapus dan kemudian menyilang lagi dengan yang baru, seperti di atas kertas? Ternyata tidak semuanya sesederhana itu …

Di sinilah jasa arsitektur dibutuhkan. Harap dicatat bahwa bangunan tempat tinggal terdiri dari banyak komponen. Hal terpenting yang harus diperhatikan adalah komponen struktur (agar rumah dapat berdiri) seperti pondasi, kolom (pilar), ramp (balok pengikat bawah), bola ring (balok pengikat atas) dan rangka atap.

Masing-masing komponen struktur tersebut memiliki fungsi penting dalam sebuah bangunan. Misalnya, jika ada komponen yang rusak / dilepas maka gedung bisa roboh. Ini jelas bukan yang Anda inginkan.

Seorang arsitek yang berpengalaman akan segera menganalisa keberadaan komponen tersebut pada awal perencanaan. Untuk menghemat biaya, arsitek biasanya mencoba menjaga komponen struktural tetap tersedia. Kalaupun ternyata perlu dilepas, pertimbangkan untuk mengganti struktur yang bisa menopang bangunan agar tidak roboh. Terkadang orang awam yang tidak mengerti struktur sengaja menghilangkan elemen struktur karena dianggap mengganggu, tanpa disadari berbahaya. Rata-rata komponen yang dilepas adalah kolom beton karena keberadaan kolom beton terkadang mengganggu penggunaan ruang, terutama untuk sirkulasi.

Kolom adalah elemen yang sangat penting. Pada bangunan rumah tinggal sederhana, kolom yang digunakan biasanya terbatas pada kolom praktis, yang berguna tidak hanya sebagai penyangga bangunan, tetapi juga sebagai pengikat dinding. Tentunya beban yang ditopang dimulai dari komponen atas yaitu rangka atap dan penutupnya. Jika kolom hanya dilepas, coba bayangkan bagaimana berat rangka akan disangga?

Arsitek akan membuat gambar yang menunjukkan keberadaan komponen struktur lama yang masih dapat digunakan untuk mendukung tata letak baru. Tentunya dalam prosesnya, untuk menghemat biaya konstruksi, arsitek akan memanfaatkan komponen struktur lama untuk digunakan kembali pada proyek baru. Disinilah dibutuhkan keahlian seorang arsitek yaitu cara menyusun denah baru sesuai kebutuhan klien dengan tetap menggunakan komponen struktur lama agar biaya konstruksi dapat ditekan.

Selain komponen struktural utama, elemen trim seperti kusen, pintu, daun jendela dan genteng umumnya digunakan kembali. Komponen ini masih dapat digunakan setelah dilepas karena kecil kemungkinan kerusakan selama proses pelepasan. Pelapis akhir lainnya seperti dinding bata, keramik / granit, langit-langit gipsum atau profil lengket pasti akan rusak saat dilepas. Namun, jika arsitek dapat menggunakan fragmen ini sebagai elemen estetika dalam desain baru, penghematan dapat dilakukan dengan biaya pembongkaran yang minimal.

2. Perbaikan dengan lantai atas.

Renovasi bangunan atas biasanya dilakukan ketika tidak ada cukup lahan untuk menampung bangunan baru.

Menambahkan lantai ke gedung membutuhkan solusi yang lebih kompleks daripada merenovasi tanpa menambahkan lantai. Tentu saja yang menjadi perhatian utama adalah masalah struktur bangunan. Struktur gedung bertingkat jelas berbeda dengan gedung bertingkat.

Dalam kasus bangunan atas lantai, daya dukung tanah harus diperhitungkan. Daya dukung tanah akan mempengaruhi jenis pondasi yang digunakan. Sebagai contoh, untuk medan di Yogyakarta, daya dukung tanahnya cukup baik, meskipun bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. Jadi, untuk rumah dua lantai, diperlukan pondasi untuk setiap kolom utama bangunan.

Sebagai penjelasan untuk bangunan bertingkat rendah, keberadaan kolom pada bangunan harus diperhatikan dengan cermat. Bedanya, pada bangunan bertingkat, tiang utama digunakan sebagai tiang utama bangunan, terutama tiang penyangga bangunan lantai dua. Jenis kolom dasar lebih besar dari kolom biasa. Dengan kolom utama, fungsi kolom bisa dibilang lebih untuk menyatukan dinding.

Penambahan tiang utama harus dibarengi dengan penambahan pondasi titik, bisa berupa pondasi tapak atau tiang pancang. Sedangkan untuk bangunan tempat tinggal di kawasan Yogyakarta, bangunan dua lantai rata-rata hanya menggunakan pondasi berundak di kolom utama.

Dimensi pondasi ini cukup lebar sehingga area galiannya cukup luas. Penggalian ini jelas akan merusak lantai bangunan yang ada. Jika lantai eksisting menggunakan flooring berupa granit, keramik, ubin dan bahan lain yang sulit dilepas dan mudah pecah, maka sebaiknya kita mencari bahan baru yang sama. Masalahnya, bahan-bahan tersebut, yang merupakan produk pabrik, biasanya cepat habis di pasaran sejak diluncurkan. Hal ini disebabkan produsen selalu berinovasi dengan menawarkan produk baru dengan corak dan motif berbeda.

Selain itu, untuk membuat gedung bertingkat dibutuhkan luas lantai di atas lantai satu. Untuk lantai, beton cor atau bahan lain seperti kayu atau pelat GRC tebal dapat digunakan. Untuk lantai beton, bekisting diperlukan untuk pemasangan, yang harus didukung dari bawah. Hal ini otomatis akan merusak plafon lantai satu serta sistem kelistrikan yang terhubung ke plafon.

Pertama-tama, perlu untuk menghapus atap lantai pertama, yang diganti dengan lantai monolitik. Apakah rangka dan atap nantinya dapat dipasang kembali di lantai atas atau tidak tergantung dari desain dan kondisi material yang ada. Apakah dapat digunakan atau tidak, apakah ukurannya sesuai dengan desain baru atau tidak. Arsitek yang bertanggung jawab, tentu saja, akan berpikir.

Terakhir, yang perlu diperhatikan saat melakukan renovasi adalah puing-puing bangunan lama. Banyak atau sedikit, tapi sampah harus dibuang ke tempat lain. Hal ini tentunya membutuhkan biaya pembuangan.